PEMERINTAH KABUPATEN SERANG KECAMATAN PABUARAN DESA TANJUNGSARI
Jam Pelayanan offline: 08:00 - 16:00 WIB
Warisan Sejarah & Budaya

Asal-Usul & Sejarah Desa Tanjungsari

Menelusuri sejarah kejayaan lokal, cagar budaya ziarah bersejarah, dan riwayat terbentuknya kampung-kampung di Tanjungsari.

Hikayat Asal-Usul

Kilas Balik Pendirian Desa

Nama Tanjungsari diyakini berasalkan dari gabungan kata "Tanjung" (nama pohon berbunga harum yang dahulu banyak tumbuh di perbukitan wilayah ini) dan "Sari" (yang berarti inti keindahan). Berdasarkan cerita turun-temurun para sesepuh, area ini mulanya merupakan hutan peristirahatan bagi utusan Kesultanan Banten.

Secara resmi administratif, Desa Tanjungsari dibentuk pada masa awal kemerdekaan untuk menyatukan beberapa dusun tani tradisional. Sejak dahulu kala, masyarakat Tanjungsari hidup berdampingan secara harmonis dengan mengandalkan bercocok tanam padi persawahan dan kerajinan anyaman bambu.

Situs Cagar Budaya & Ziarah

Makam Keramat

Petilasan Wali Tanjungsari

Terletak di bukit utara desa, petilasan ini diyakini sebagai tempat peristirahatan sekaligus syiar Islam salah satu utusan Kesultanan Banten pada abad ke-16. Setiap bulan Maulid, tempat ini ramai diziarahi warga sebagai bentuk penghormatan leluhur.

Situs Bersejarah

Makam Buyut Tanjungsari

Pemakaman tokoh perintis pembuka lahan awal wilayah desa (Kiai Abu Bakar / Mbah Buyut) yang berlokasi di RT 02. Area pemakaman dikelilingi pohon beringin tua ratusan tahun yang dilestarikan warga sebagai pelindung sumber mata air alam.

Sejarah Pembagian Dusun

01

Kampung Pasir

Dinamakan Kampung Pasir karena karakteristik tanah vulkanis sisa erupsi purba yang dominan pasir. Dahulu merupakan area penambangan pasir tradisional sebelum disulap warga menjadi ladang palawija subur.

02

Kampung Candi

Menyimpan cerita rakyat ditemukannya batu andesit berukir menyerupai candi hindu kuno oleh petani zaman dahulu. Nama Candi dipertahankan warga sebagai identitas wilayah persawahan timur desa.

03

Kampung Rawa

Sebelum era 1970-an merupakan rawa berair yang rawan genangan. Melalui gotong royong warga, rawa tersebut direklamasi menjadi saluran irigasi teknis yang kini mengairi ratusan hektar sawah desa.